Postingan

Menampilkan postingan dengan label fiksi

Puisi ‖ Wanita Tanpa Alas Kaki

Wanita tanpa alas kaki di kepalanya menumpuk segoni beban Tangan mencengkram kuat, agar goni tidak jatuh Wanita tanpa alas kaki Berjalan tanpa takut gelap di malam berbulan sabit Hanya sendiri, mengangkat goni menggembung  Sesekali di geser sedikit demi sedikit bebannya Tanda kepalanya sudah sangat letih Wanita tanpa alas kaki tidak berhenti Dia terus melanjutkan perjalanannya Tiba-tiba hujan menyapa Goni di kepalanya semakin berat Tak kuasa dia menahan  Namun kakinya terus melangkah, walau dengan irama pelan Wajahnya lelah, berharap mendapat sedikit saja istirahat Untungnya tetesan air hujan mampu menyejukkan hatinya Wanita tanpa alas kaki Membawa hasil ladang ke pedagang malam itu Semua isi goni berpindah tangan Dia sumringah mendapat uang lima ribu empat ratus rupiah Setelah seharian mencari-carinya di kebun Malam itu pukul 19.50 Wanita tanpa alas kaki sangat bahagia Pasar Usang Juni 2017

Bukan Prioritas

Siapalah aku yang bukan menjadi prioritas bagimu. Meski berulang – ulang kali aku mencari tatapmu, mencari waktu mu, mencari tubuhmu yang katanya sedang sibuk itu, aku tidak akan pernah mendapatkannya. Sibukmu untuk masa depanmu yang tanpa aku. Lalu mengapa harus ada kita dalam suatu hal yang orang-orang sebut “hubungan”. Hubungan semacam apa ini? Hubungan sebatas status kah? Atau kau sedang menyembunyikan luka masa lalumu, dengan membersamaiku hanya untuk beberapa waktu. Lalu setelah lukamu sembuh, kau lanjutkan hidupmu dengan baik-baik saja. Aku hanya sebagai obat yang masuk kealiran darahmu, lalu kau lupakan begitu saja setelah kau baik-baik saja. Air Pecah 02 Juni 2016

Hal yang Berkecamuk di Dadamu

Aku tidak tau harus bercerita dari mana. Malam ini beberapa hal menari-nari dalam kepalaku, alangkah baiknya kutuliskan saja. Suatu saat nanti aku kembali membaca tulisan ini sambil tersenyum dan mengatakan “Aku telah menemukan lelaki sejati ku” - meskipun saat ini masih entah. Tidak ada yang tau seperti apa akhir perjalanan cinta. Saat ini pun dengan seseorang yang ku sebut kekasih, aku masih belum menebak akhir dari kisah kasih ini. Cinta bisa saja merobek robek hatimu, mengacaukan hari mu juga membuat bahagia hatimu. Cinta tidak menenangkan, aku tidak percaya bahwa cinta itu menenangkan. Semakin engkau nyaman pada cintanya, dadamu akan selalu bergetar-tak tenang. Saat ini dadaku sedang dipenuhi kebingungan. Bahkan untuk ini pun tidak pantas disebut tenang. Beberapa perubahan kau tunjukkan padaku di tiap harinya. Kau jauh, sangat jauh dari tanganku yang sedari tadi melambai-lambai ke arah mu. Aku seperti melihat diriku yang dahulu dalam sikapmu  saat ini . Dahulu – sebelum d...